DAFTAR ISI
BAB I PENGAMBILAN KEPUTUSAN
1.
Teori dari keputusan ………………………………………….
1.1
2.
Model dalam
pengambilan keputusan …………………………………………. 1.2
BAB II KOMUNIKASI
1.
Pengertian Komunikasi …………………………………………. 2.1
2.
Cara menyampaikan ide ………………………………………….
2.2
3.
Hambatan dalam
Komunikasi …………………………………………. 2.3
BAB III KEPEMIMPINAN
1.
Tipe Kepemimpinan …………………………………………….3.1
2.
Teori Kepemimpinan …………………………………………….3.2
DAFTAR PUTAKA ……………………………………………………………………………………….
BAB I PENGAMBILAN KEPUTUSAN
1. Teori
Keputusan
Terdapat 3 (tiga)
teori pengambilan keputusan yang dianggap paling sering dibicarakan dalam berbagai
kepustakaan kebijaksanaan negara. Teori-teori yang dimaksud ialah : teori
Rasional komprehensif, teori Inkremental dan teori Pengamatan terpadu:
Teori Rasional
Komprehensif
Teori pengambilan
keputusan yang paling dikenal dan mungkin pula yang banyak diterima oleh
kalangan luas ialah teori rasional komprehensif.
Unsur-unsur utama dari
teori ini dapat dikemukakan sebagai berikut :
1.
Pembuat keputusan
dihadapkan pada.suatu masalah tertentu yang dapat dibedakan dari
masalah-masalah lain atau setidaknya dinilai sebagai masalah-masalah yang dapat
diperbandingkan satu sama lain.
2.
Tujuan-tujuan,
nilai-nilai, atau sasaran yang mempedomani pembuat keputusan amat jelas dan
dapat ditetapkan rangkingnya sesuai dengan urutan kePentingannya.
3.
Pelbagai altenatif
untuk memecahkan masalah tersebut diteliti secara saksama.
4.
Akibat-akibat (biaya
dan manfaat) yang ditmbulkan oleh setiap altenatif yang dipilih diteliti.
5.
Setiap alternatif dan
masing-masing akibat yang menyertainya dapat diperbandingkan dengan
alternatif-altenatif lainnya.
6.
Pembuat keputusan akan
memilih alternatif’ dan akibat-akibatnya’ yang dapat memaksimasi tercapainya
tujuan, nilai atau Sasaran yang telah digariskan.
Teori rasional
komprehensif banyak mendapatkan kritik dan kritik yang paling tajam berasal
dari seorang ahli Ekonomi dan Matematika Charles Lindblom (1965 , 1964′ 1959)’
Lindblom secara tegas menyatakan bahwa para pembuat keputusan itu sebenarya
tidaklah berhadapan dengan masalah-masalah yang konkrit dan terumuskan dengan
jelas.
Lebih lanjut, pembuat
keputusan kemungkinan juga sulit untuk memilah-milah secara tegas antara
nilai-nilainya sendiri dengan nilai-nilai yang diyakini masyarakat. Asumsi
penganjur model rasionar bahwa antara fakta-fakta dan nilai-nilai dapat dengan
mudah dibedakan, bahkan dipisahkan, tidak pemah terbukti dalam kenyataan
sehari-hari.
Akhirnya, masih ada
masalah’ yang disebut ,,sunk_cost,,. Keputusan_-keputusan,
kesepakatan-kesepakatan dan investasi terdahulu dalam kebijaksanaan dan
program-program yang ada sekarang kemungkinan akan mencegah pembuat keputusan
untuk membuat keputusan yang berbeda sama sekali dari yang sudah ada.
Untuk konteks
negara-negara sedang berkembang, menurut R’s. Milne (1972), mode irasionar
komprehensif ini jelas tidak akan muduh diterapkan. Sebabnya ialah:
informasi/datastatistik tidak memadai ; tidak memadainya perangkat teori yang
siap pakai untuk kondisi- kondisi negara sedang berkembang ; ekologi budaya di
mana sistem pembuatan keputusan itu beroperasi juga tidak mendukung birokrasi
di negara sedang-berkembang umumnya dikenal amat lemah dan tidak sanggup
memasok unsur-unsur rasionar dalam pengambilan keputusan.
Teori Inkremental
Teori inkremental
dalam pengambilan keputusan mencerminkan suatu teori pengambilan keputusan yang
menghindari banyak masalah yang harus dipertimbangkan (seperti daram teori
rasional komprehensif) dan, pada saat yang sama, merupakan teori yang lebih
banyak menggambarkan cara yang ditempuh oleh pejabat-pejabat pemerintah dalam
mengambil kepurusan sehari-hari.
Pokok-pokok teori
inkremental ini dapat diuraikan sebagai berikut.
§ Pemilihan tujuan atau sasaran dan analisis tindakan empiris yang
diperlukan untuk mencapainya dipandang sebagai sesuatu hal yang saling terkait
daripada sebagai sesuatu hal yang saling terpisah.
§ Pembuat keputusan dianggap hanya mempertimbangkan beberapa
altematif yang langsung berhubungan dengan pokok masalah dan
altematif-alternatif ini hanya dipandang berbeda secara inkremental atau
marginal bila dibandingkan dengan kebijaksanaan yang ada sekarang.
§ Bagi tiap altematif hanya sejumlah kecil akibat-akibat yang
mendasar saja yang akan dievaluasi.
§ Masalah yang dihadapi oleh pembuat keputusan akan
didedifinisikan secara terarur. Pandangan inkrementalisme memberikan kemungkin
untuk mempertimbangkan dan menyesuaikan tujuan dan sarana serta sarana dan
tujuan sehingga menjadikan dampak dari masalah itu lebih dapat ditanggulangi.
§ Bahwa tidak ada keputusan atau cara pemecahan yang tepat bagi
tiap masalah. Batu uji bagi keputusan yang baik terletak pada keyakinan bahwa
berbagai analisis pada akhirnya akan sepakat pada keputusan tertentu meskipun
tanpa menyepakati bahwa keputusan itu adalah yang paling tepat sebagai sarana
untuk mencapai tujuan.
§ Pembuatan keputusan yang inkremental pada hakikatnya bersifat
perbaikan-perbaikan kecil dan hal ini lebih diarahkan untuk memperbaiki
ketidaksempunaan dari upaya-upaya konkrit dalam mengatasi masalahsosial yang
ada sekarang daripada sebagai upaya untuk menyodorkan tujuan-tujuan sosial yang
sama sekali baru di masa yang akan datang.
Kepurtusan-keputusan
dan kebijaksanaan-kebijaksanaan pada hakikatnya merupakan produk dari saling
memberi dan menerima dan saling percaya di antara pelbagai pihak yang terlibat
dalam proses keputusan tersebut.
Dalam masyarakat yang
strukturnya majemuk paham lnkremental ini secara politis lebih aman karena akan
lebih gampang untuk mencapai kesepakatan apabila masalatr-masalah yang
diperdebatkan oleh pelbagai kelompok yang terlibat hanyalah bersifat upaya
untuk memodifikasi terhadap program-program yang sudah ada daripada jika hal
tersebut menyangkut isu-isu kebijaksanaan mengenai perubahan-perubahan yang
radikal yang memiliki sifat “ambil semua atau tidak sama sekali”.
Karena para pembuat
keputusan itu berada dalam keadaan yang serba tidak pasti khususnya yang
menyangkut akibat-akibat dari tindakan-tindakan mereka di masa datang, maka
keputusan yang bersifat inkremental ini akan dapat mengurangi resiko dan biaya
yang ditimbulkan oleh suasana ketidakpastian itu.
Paham inkremental ini
juga cukup realistis karena ia menyadari bahwa para pembuat keputusan sebenamya
kurang waktu, kurang pengalaman dan kurang sumber-sumber lain yang diperlukan
untuk melakukan analisis yang komprehensif terhadap semua altematif untuk
memecahkan masalah-masalah yang ada.
Teori Pengamatan
Terpadu (Mixed Scanning Theory)
Penganjur teori ini
adalah ahli sosiologi organisasi Amitai Etzioni. Etzioni setuju terhadap
kritik-kritik para teoritisi inkremental yang diarahkan pada teori rasional
komprehensif, akan tetapi ia juga menunjukkan adanya beberapa kelemahan yang
terdapat pada teori inkremental.
Misalnya,
keputusan-keputusan yang dibuat oleh pembuat keputusan penganut model
inkremental akan lebih mewakili atau mencerminkan kepentingan-kepentingan dari
kelompok-kelompok yang kuat dan mapan serta kelompok-kelompok yang mampu
mengorganisasikan kepentingannya dalam masyarakat, sementara itu
kepentingan-kepentingan dari kelompok-kelompok yang lemah dan yang secara
politis tidak mampu mengorganisasikan kepentingannya praktis akan terabaikan.
Lebih lanjut” dengan memusatkan perhatiannya pada
kepentingan/tujuan jangka pendek dan hanya berusaha untuk memperhatikan variasi
yang terbatas dalam kebijaksanaan-kebijaksanaan yang ada sekarang, maka model
inkremental cenderung mengabaikan peluang bagi perlunya pembaruan sosial (social
inovation) yang mendasar.
Oleh karena itu, menurut Yehezkel Dror (1968)
gaya inkremental dalam pembuatan keputusan cenderung menghasilkan kelambanan
dan terpeliharanya status quo, sehingga merintangi upaya menyempurnakan proses
pembuatan keputusan itu sendiri.
Bagi sarjana seperti
Dror– yang pada dasamya merupakan salah seorang penganjur teori rasional yang
terkemuka — model inkremental ini justru dianggapnya merupakan strategi yang
tidak cocok untuk diterapkan di negara-negara sedang berkembang, sebab di
negara-negara ini perubahan yang kecil-kecilan (inkremental) tidaklah memadai
guna tercapainya hasil berupa perbaikan-perbaikan besar-besaran.
Model pengamatan terpadu juga memperhitungkan tingkat kemampuan
para pembuat keputusan yang berbeda-beda. Secara umum dapat dikatakan, bahwa
semakin besar kemampuan para pembuat keputusan untuk memobilisasikan
kekuasaannya guna mengimplementasikan keputusan-keputusan mereka, semakin besar
keperluannya untuk melakukan scanning dan semakin menyeluruh
scanning itu, semakin efektif pengambilan keputusan ‘tersebut.
Dengan demikian, moder
pengamatan terpadu ini pada hakikatnya merupakan pendekatan kompromi yang
menggabungkan pemanfaatan model rasional komprehensif dan moder inkremental dalam
proses pengambilan keputusan.
2. Model dalam pengambilan Keputusan
Model Perilaku
Pengambilan keputusan
Model Ekonomi, yang
dikemukakan oleh ahli ekonomi klasik dimana keputusan orang itu rasional, yaitu
berusaha mendapatkan keuntungan marginal sama dengan biaya marginal atau untuk
memperoleh keuntungan maksimum
Model Manusia
Administrasi, Dikemukan oleh Herbert A. Simon dimana lebih berprinsip orang
tidak menginginkan maksimalisasi tetapi cukup keuntungan yang memuaskan
Model Manusia
Mobicentrik, Dikemukakan oleh Jennings, dimana perubahan merupakan nilai utama
sehingga orang harus selalu bergerak bebas mengambil keputusan
Model Manusia
Organisasi, Dikemukakan oleh W.F. Whyte, model ini lebih mengedepankan sifat
setia dan penuh kerjasama dalam pengambilan keputusan
Model Pengusaha Baru,
Dikemukakan oleh Wright Mills menekankan pada sifat kompetitif
Model Sosial, Dikemukakan
oleh Freud Veblen dimana menurutnya orang seringb tidak rasional dalam
mengambil keputusan diliputi perasaan emosi dan situsai dibawah sadar.
Model Preskriptif dan
Deskriptif
Fisher mengemukakan
bahwa pada hakekatnya ada 2 model pengambilan keputusan, yaitu:
·
Model Preskriptif
Pemberian resep perbaikan, model ini menerangkan bagaimana
kelompok seharusnya mengambil keputusan
·
Model Deskriptif
Model ini menerangkan
bagaimana kelompok mengambil keputusan tertentu
·
Model preskriptif
berdasarkan pada proses yang ideal sedangkan model deskriptif berdasarkan pada
realitas observasi
Disamping model-model
diatas (model linier) terdapat pula model Spiral dimana satu anggota
mengemukakan konsep dan anggota lain mengadakan reaksi setuju tidak setuju
kemudian dikembangkan lebih lanjut atau dilakukan “revisi” dan seterusnya.
BAB II KOMUNIKASI
1.
Pengertian Komunikasi
Komunikasi berasal dari bahasa latin yaitu
"Communis" atau "common" dalam bahasa Inggris yang berarti
sama. Berkomunikasi berarti kita berusaha mencapai kesamaan makna
"commonness", atau dengan ungkapan lain melalui informasi kita
mencoba untuk berbadi Informasi , gagasan atau sifat dengan partisipan lain.
Kendala utama dalam berkomunikasi adalah sering kali kita mempunyai makna yang
berbeda terhadap lambang yang sama.
Jadi Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Pada
umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti
oleh kedua belah pihak. apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti
oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik
badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala,
mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi nonverbal.
1.
Cara menyampaikan ide dalam Komunikasi
Cara penyaluran ide melalui komunikasi
Pada umumnya komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan gerak gerik badan seperti tersenyum,menggelengkan kepala, dan mengangkat bahu.
Dalam menyalurkan ide atau solusi harus ada si pengirim (sender) dan si penerima (receiver). Ide-ide yang diambil pun tidak sembarangan, tetapi ada penyaringan dan seleksi untuk diambil ide manakah yang terbaik untuk di ambil dan dilaksanakan untuk oleh organisasi tersebut agar mencapai tujuan bersama,serta visi dan misi suatu organisasi.
Pada umumnya komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan gerak gerik badan seperti tersenyum,menggelengkan kepala, dan mengangkat bahu.
Dalam menyalurkan ide atau solusi harus ada si pengirim (sender) dan si penerima (receiver). Ide-ide yang diambil pun tidak sembarangan, tetapi ada penyaringan dan seleksi untuk diambil ide manakah yang terbaik untuk di ambil dan dilaksanakan untuk oleh organisasi tersebut agar mencapai tujuan bersama,serta visi dan misi suatu organisasi.
·
IDE (gagasan) oleh sender
·
PERUMUSAN yaitu dalam perumusan ini ide si sender
disampaikan oleh kata-kata.
·
PENYALURAN (transmitting) yaitu penyaluran ini
bisa lisan,tertulis,simbol maupun isyarat,dll.
·
TINDAKAN yaitu tindakan ini sebagai contoh
perintah-perintah dalam organisasi dilaksanakan.
·
PENGERTIAN yaitu kata-kata si sender dalam
perumusan tadi dijadikan ide oleh si penerima.
·
PENERIMAAN yaitu ide atau informasi ini diterima
oleh penangkap berita (receiver).
Dalam membina kerjasama dalam kelompok inilah yang nantinya digunakan dalam rangka membina koordinasi organisasi kesatuan gerak dan arah yang sesuai dengan arah dan tujuan organisasi. Agar tercapai koordinasi dalam kerjasama, pada organisasi itu sangat penting dilaksanakannya komunikasi yang tepat dan se-efektif mungkin sehingga koordinasi dan kerja sama benar-benar dilaksanakan dengan tepat juga.
Dalam membina kerjasama dalam kelompok inilah yang nantinya digunakan dalam rangka membina koordinasi organisasi kesatuan gerak dan arah yang sesuai dengan arah dan tujuan organisasi. Agar tercapai koordinasi dalam kerjasama, pada organisasi itu sangat penting dilaksanakannya komunikasi yang tepat dan se-efektif mungkin sehingga koordinasi dan kerja sama benar-benar dilaksanakan dengan tepat juga.
1.
Hambatan dalam Komunikasi
Hambatan-hambatan komunikasi dalam organisasi:
Hambatan Teknis
Keterbatasan fasilitas dan peralatan komunikasi. Dari sisi teknologi semakin berkurang dengan adanya temuan baru dibidang kemajuan teknologi, komunikasi dan informasi. Sehingga saluran komunikasi dapat diandalkan dan efisien sebagai media komunikasi.
Menurut Chruden dan Sherman, dalam bukunya Personnel Management , 1976, jenis hambatan teknis dalam komunikasi:
a. Tidak adanya rencana dan prosedur kerja yang jelas
b. Kurangnya informasi atau penjelasan.
c. Kurangnya keterampilan membaca.
d. Pemilihan media (saluran) yang kurang tepat.
2. Hambatan Semantik
Gangguan semantik menjadi hambatan dalam proses penyampaian pengertian atau ide secara efektif. Definisi semantik sebagai studi atas pengertian, yang diungkapkan lewat bahasa.
Kata-kata membantu proses pertukaran timbal balik arti dan pengertian (komunikan dan komunikator), tapi seringkali proses penafsirannya keliru. Tidak adanya hubungan antara simbol dan dengan apa yang di simbolkannya dapat mengakibatkan data yang dipakai ditafsirkan sangat berbeda dari apa yang dimaksudkan sebenarnya.
Untuk menghindari misi komunikasi yang seperti ini, seorang komunikator harus memilih kata-kata yang tepat sesuai dengan karakteristik komunikannya, dan melihai kemungkinan penafsirannya terhadap kata-kata yang dipakai.
3. Hambatan Manusiawi
Terjadi karena adanya faktor emosi dan prasangka pribadi, presepsi, kecakapan atau ketidakcakapan, kemampuan atau ketidakmampuan panca indera manusia,dll.
Menurut Chruden dan Sherman:
a. Hambatan yang berasal dari perbedaan individual manusia yaitu perbedaan umur, perbedaan presepsi,perbedaan keadaan emosi, perbedaan status, keterampilan mendengarkan, penyaringan dan pencairan informasi.
b. Hambatan yang ditimbulkan oleh iklim psikologis dalam organisasi yaitu Suasana iklim kerja dapat mempengaruhi sikap dan perilaku staff dan efektifitas komunikasi organisasi.
Hambatan Teknis
Keterbatasan fasilitas dan peralatan komunikasi. Dari sisi teknologi semakin berkurang dengan adanya temuan baru dibidang kemajuan teknologi, komunikasi dan informasi. Sehingga saluran komunikasi dapat diandalkan dan efisien sebagai media komunikasi.
Menurut Chruden dan Sherman, dalam bukunya Personnel Management , 1976, jenis hambatan teknis dalam komunikasi:
a. Tidak adanya rencana dan prosedur kerja yang jelas
b. Kurangnya informasi atau penjelasan.
c. Kurangnya keterampilan membaca.
d. Pemilihan media (saluran) yang kurang tepat.
2. Hambatan Semantik
Gangguan semantik menjadi hambatan dalam proses penyampaian pengertian atau ide secara efektif. Definisi semantik sebagai studi atas pengertian, yang diungkapkan lewat bahasa.
Kata-kata membantu proses pertukaran timbal balik arti dan pengertian (komunikan dan komunikator), tapi seringkali proses penafsirannya keliru. Tidak adanya hubungan antara simbol dan dengan apa yang di simbolkannya dapat mengakibatkan data yang dipakai ditafsirkan sangat berbeda dari apa yang dimaksudkan sebenarnya.
Untuk menghindari misi komunikasi yang seperti ini, seorang komunikator harus memilih kata-kata yang tepat sesuai dengan karakteristik komunikannya, dan melihai kemungkinan penafsirannya terhadap kata-kata yang dipakai.
3. Hambatan Manusiawi
Terjadi karena adanya faktor emosi dan prasangka pribadi, presepsi, kecakapan atau ketidakcakapan, kemampuan atau ketidakmampuan panca indera manusia,dll.
Menurut Chruden dan Sherman:
a. Hambatan yang berasal dari perbedaan individual manusia yaitu perbedaan umur, perbedaan presepsi,perbedaan keadaan emosi, perbedaan status, keterampilan mendengarkan, penyaringan dan pencairan informasi.
b. Hambatan yang ditimbulkan oleh iklim psikologis dalam organisasi yaitu Suasana iklim kerja dapat mempengaruhi sikap dan perilaku staff dan efektifitas komunikasi organisasi.
BAB
III KEPEMIMPINAN
1. Tipe
Kepemimpinan
Setelah kemaren membahas tentang Definisi Kepemimpinan, maka
pada kesempatan kali ini saya juga akan membahas mengenai Tipe-Tipe
Kepeminpinan, yang mana tipe kepemimpinan sering kali menjadi perdebatan para
tokoh-tokoh besar. Karena kepemimpinan sangat berguna sekali dalam kehidupan
kita, minimal bagi seorang laki-laki nantinya akan memimpin sebuah keluarga.
Langsung saja tidak usah terlalu panjang basa-basinya, Menurut beberapa
kelompok sarjana (dalam Kartono, 2003); Shinta (2002) membagi Tipe Kepemimpinan
berbagai macam.
Macam – macam Tipe Kepemimpinan:
1. Tipe Kepemimpinan Kharismatis
Tipe kepemimpinan karismatis memiliki kekuatan
energi, daya tarik dan pembawaan yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain,
sehingga ia mempunyai pengikut yang sangat besar jumlahnya dan pengawal-pengawal
yang bisa dipercaya. Kepemimpinan kharismatik dianggap memiliki kekuatan ghaib
(supernatural power) dan kemampuan-kemampuan yang superhuman, yang diperolehnya
sebagai karunia Yang Maha Kuasa. Kepemimpinan yang kharismatik memiliki
inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan teguh pada pendirian sendiri. Totalitas
kepemimpinan kharismatik memancarkan pengaruh dan daya tarik yang amat besar.
2. Tipe Kepemimpinan
Paternalistis/Maternalistik
Kepemimpinan paternalistik lebih diidentikkan
dengan kepemimpinan yang kebapakan dengan sifat-sifat sebagai berikut: (1)
mereka menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak/belum dewasa, atau anak
sendiri yang perlu dikembangkan, (2) mereka bersikap terlalu melindungi, (3)
mereka jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan
sendiri, (4) mereka hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada bawahan
untuk berinisiatif, (5) mereka memberikan atau hampir tidak pernah memberikan kesempatan
pada pengikut atau bawahan untuk mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas
mereka sendiri, (6) selalu bersikap maha tahu dan maha benar.
Sedangkan tipe kepemimpinan maternalistik
tidak jauh beda dengan tipe kepemimpinan paternalistik, yang membedakan adalah
dalam kepemimpinan maternalistik terdapat sikap over-protective atau terlalu
melindungi yang sangat menonjol disertai kasih sayang yang berlebih lebihan.
3. Tipe Kepemimpinan Militeristik
Tipe kepemimpinan militeristik ini sangat
mirip dengan tipe kepemimpinan otoriter. Adapun sifat-sifat dari tipe
kepemimpinan militeristik adalah: (1) lebih banyak menggunakan sistem
perintah/komando, keras dan sangat otoriter, kaku dan seringkali kurang
bijaksana, (2) menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan, (3) sangat menyenangi
formalitas, upacara-upacara ritual dan tanda-tanda kebesaran yang berlebihan,
(4) menuntut adanya disiplin yang keras dan kaku dari bawahannya, (5) tidak
menghendaki saran, usul, sugesti, dan kritikan-kritikan dari bawahannya, (6)
komunikasi hanya berlangsung searah.
4. Tipe Kepemimpinan Otokratis
(Outhoritative, Dominator)
Kepemimpinan otokratis memiliki ciri-ciri
antara lain: (1) mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan mutlak yang harus
dipatuhi, (2) pemimpinnya selalu berperan sebagai pemain tunggal, (3) berambisi
untuk merajai situasi, (4) setiap perintah dan kebijakan selalu ditetapkan
sendiri, (5) bawahan tidak pernah diberi informasi yang mendetail tentang
rencana dan tindakan yang akan dilakukan, (6) semua pujian dan kritik terhadap
segenap anak buah diberikan atas pertimbangan pribadi, (7) adanya sikap
eksklusivisme, (8) selalu ingin berkuasa secara absolut, (9) sikap dan
prinsipnya sangat konservatif, kuno, ketat dan kaku, (10) pemimpin ini akan
bersikap baik pada bawahan apabila mereka patuh.
5. Tipe Kepemimpinan Laissez Faire
Pada tipe kepemimpinan ini praktis pemimpin
tidak memimpin, dia membiarkan kelompoknya dan setiap orang berbuat semaunya
sendiri. Pemimpin tidak berpartisipasi sedikit pun dalam kegiatan kelompoknya.
Semua pekerjaan dan tanggung jawab harus dilakukan oleh bawahannya sendiri.
Pemimpin hanya berfungsi sebagai simbol, tidak memiliki keterampilan teknis,
tidak mempunyai wibawa, tidak bisa mengontrol anak buah, tidak mampu
melaksanakan koordinasi kerja, tidak mampu menciptakan suasana kerja yang
kooperatif. Kedudukan sebagai pemimpin biasanya diperoleh dengan cara
penyogokan, suapan atau karena sistem nepotisme. Oleh karena itu organisasi
yang dipimpinnya biasanya morat marit dan kacau balau.
6. Tipe Kepemimpinan Populistis
Kepemimpinan populis berpegang teguh pada
nilai-nilai masyarakat yang tradisonal, tidak mempercayai dukungan kekuatan
serta bantuan hutang luar negeri. Kepemimpinan jenis ini mengutamakan
penghidupan kembali sikap nasionalisme.
7. Tipe Kepemimpinan
Administratif/Eksekutif
Kepemimpinan tipe administratif ialah
kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas administrasi secara
efektif. Pemimpinnya biasanya terdiri dari teknokrat-teknokrat dan
administratur-administratur yang mampu menggerakkan dinamika modernisasi dan
pembangunan. Oleh karena itu dapat tercipta sistem administrasi dan birokrasi
yang efisien dalam pemerintahan. Pada tipe kepemimpinan ini diharapkan adanya
perkembangan teknis yaitu teknologi, indutri, manajemen modern dan perkembangan
sosial ditengah masyarakat.
8. Tipe Kepemimpinan Demokratis
Kepemimpinan demokratis berorientasi pada
manusia dan memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya. Terdapat
koordinasi pekerjaan pada semua bawahan, dengan penekanan pada rasa tanggung
jawab internal (pada diri sendiri) dan kerjasama yang baik. kekuatan
kepemimpinan demokratis tidak terletak pada pemimpinnya akan tetapi terletak
pada partisipasi aktif dari setiap warga kelompok.
1.
Teori Kepemimpinan
Teori-teori kepemimpinan dapat dikelompokkan
menjadi enam teori, yaitu:
1. Teori orang-orang
terkemuka.
2. Teori
lingkungan
3. Teori situasi
personal
4. Teori
interaksi harapan
5. Teori
humanistik
6. Teori pertukaran
1. Teori Kelompok Orang-Orang Terkemuka
Teori ini disusun berdasarkan cara induktif
dengan mempelajari sifat-sifat yang menonjol dari pimpinan atas keberhasilan
tugas yang dijalankan, terutama kemampuan untuk memimpin, diasumsikan bahwa
pemimpin-pemimpin yang berhasil memainkan peranan yang memiliki sifat-sifat
unik dan kualifikasinya adalah superior. Teori ini disebut juga dengan teori
serba sifat.
2.Teori Lingkungan
Teori ini menganggap bahwa kepemimpinan
didapatkan terutama karena faktor lingkungan sosial yang merupakan tantangan
untuk dapat diatasi. Selain itu seorang pemimpin tergantung pada zaman dimana
ia hidup untuk menyelesaikan masalah-masalah relevan dengan situasi dewasa ini.
Situasi lingkungan sosial merangsang agar pemimpin melakukan kegiatan-kegiatan
yang relevan dengan problema-problema yang ada pada waktu tertentu, sehingga
menghasilkan tipe kepemimpinan tertentu misalnya : pada masa perang, krisis,
reformasi, globalisasi, akan muncul kepemimpinan yang relevan pada saat itu.
3.Teori Situasi Personal
Teori ini menganggap individu memiliki
kemampuan-kemampuan tertentu seperti kemampuan, sikap dan tingkah laku yang
dapat mengoperasikan aktivitasnya berdasarkan kondisi saat itu. Oleh karenanya
masalah kepemimpinan ditentukan juga oleh kepribadian pemimpinnya, kelompok
yang dipimpin, kejadian-kejadian yang timbul saat itu. Interaksi antara
pemimpin dengan situasinya membentuk tipe-tipe kepemimpinan tertentu.
4.Teori Interaksi Harapan
Teori ini dikemukakan berdasarkan tiga
variable, yaitu : aktivitas, interaksi, dan sentiment. Struktur interaksi akan
menentukan arah aktivitas, sehingga pemimpin harus dapat menciptakan suatu
struktur interaksi dimana struktur ini merupakan stimulasi terciptanya suatu
suasana yang relevan dengan harapan-harapan dari masyarakat.
5.Teori Humanistik
Teori ini menyatakan bahwa fungsi kepemimpinan
adalah mengatur kebebasan individu untuk dapat merealisasikan motivasi
rakyatnya agar dapat bersama-sama mencapai tujuan. Yang terpenting dalam teori
ini adalah unsur organisasi yang baik dan dapat memperhatikan kebutuhan
anggotanya.
6.Teori Pertukaran
Teori ini menganggap bahwa interaksi sosial
akan menghasilkan bentuk perubahan-perubahan dimana para pengikutnya akan
berpartisipasi aktif. Pemimpin dan kepemimpinan banyak diharapkan mengadakan
interaksi untuk menunjang keberhasilan dari kepemimpinanya sehingga para
anggotnya merasa dihargai dan adanya kepuasan serta penghargaan terhadap
pimpinan. Dengan demikian akan terjalin suatu keseimbangan yang positif untuk
adanya kebersamaan persepsi terhadap tujuan yang akan dicapai, sehingga
pengikut maupun pimpinan secara bersama-sama merasakan kepuasan dalam
mencapai harapan-harapannya.
Keenam teori kepemimpinan diatas dapat
dirangkum menjadi tiga teori atau pendekatan utama, yaitu:
2) Pendekatan prilaku
pemimpin dalam kelompok atau organisasi
3) Pendekatan kontingensi
atau situasional
DAFTAR PUSTAKA:
http://wahyudieko92.blog.com/model-proses-pengambilan-keputusan-tipe-tipe-proses-pengambilan-keputusan-dan-faktor-faktor-yang-mempengaruhi-pemecahan-masalah/







No comments:
Post a Comment